Oleh : Kaka Suminta, C.Ht

suminta@gmail.com

Kondisi fisik, pikiran dan emosi kita sangat dipengaruhi apa yang kita lihat dengar dan rasakan, termasuk sensasi keharuman dan cecapan lidah. Kita menangkap stimulus dan mengalami sensasi pada alat sensor indrawi kita, yang kemudian akan memengaruhi kondisi internal kita. Kemudian kita merespon, melalui respon internal yang akan memicu reaksi eksternal kita. Jadi semua yang kita pikir, rasa dan lakukan merupakan respon kepada sensasi yang kita terima dari radar indrawi kita.

Dengan demikian melalui pengalaman hidup sejak lahir sampai saat ini, kita tak lebih merupakan pemberi respon kepada stimulus yang kita terima. Respon bukan hanya apa yang kita lakukan seagai perilaku yang bisa diamati, tetapi juga yang sangat penting adalah respon internal. respon internali ini berupa pengolaha data dan informasi dari stimulus tadi yang akan menghasilkan reaksi internal, berupa gambaran mental, emosi dan sikap yang terus terjadi sepanjang hidup.

Maka dapat disimpulkan bahwa apa yang kita lihat serta sensasi indrawi lainnya juga akan menjadi bagian dari respon internal yang memengaruhi cara tubuh dan emosi internal kita bekerja, diantaranya adalah berupa akumulasi efek fisik dan mental yang akan mengaruhi kondisi seseorang, termasuk kondisi kesehatan seseorang. Mengingat kita hanya bisa menentukan seseorang hanya dengan mengukur apakah masih dalam kondisi nornal atau ada indikator dan parameter yang membuat seseorang tidak berada dalam kondisi normal atau sehat.

Salah satu contoh sederhana adalah seseorang yang mengalami obsitas karena setiap kali mengalami tekanan atau depresi, maka ia akan merasa ingin makan atau mengonsumsi asupan, untuk mengurasi tekanan tadi. Seringali ada beberapa pemicu, seperti hadirnya seseorang yang membuat tekanan yang keemudian memicu tekanan dan membuatnya makan berlebih. tentu saja bukan hanya apa yang dilihat seseorang yang akan menjadi pemicu, juga suara atau rasa yang mengikuti apa yang dilihat sebagai emicu itu sebagai keseluruhan yang menimbulkan tekanan emosi untuk seseorang.

Dengan mengidentifikasi apa yang kita lihat dan memicu emosi tertentu yang kemudian menimbulkan perilaku terentu kita bisa meilih dan memilah persepsi apa yang bisa memicu sebuah emosi dan kemudian melahirkan perilaku tertentu, kita bisa meghadirkan pemicu untuk emosi dan perilaku yang baik danĀ  berguna, sebaliknay kita bisa menghindari persepsi yang potensial merusak emosi dan memicu perilaku buruk.

Apa yang kita pandang (dengan dan rasakan) yang merupakan objek dari apa yang kita persepsi, akan menimbulkan emosi tertentu yang kemudian akan menghasilkan pikiran, sikap dan perilaku tertentu, yang sudah kita alam sejak kita lahir samapi saat ini, akan membentuk karakter dan perilaku seseorang. Demikian juga upaya untuk mengubah atau memperbaikiĀ  kesehatan seseorang bisa juga dilakukan dengan memberi stimulus tertentu, tang telah terbukti valid untuk tujuan yang ingin dicapai