Mengungkap Mind and Body Connection.

Oleh : Kaka Suminta, C. Ht

Pertanyaan seperti dalam judul di atas, lebih banyak dilontarkan oleh mereka yang mind setnya pedesaan atau nuansa magis masih kuat dalam lingkungannya, dan jarang disampaikan oleh mereka yang lebih “terbuka” dengan informasi dan pengetahuan atau lebih terdidik. Atau mungkin saja sebagian dari yang merasa ‘terdididk” enggan untuk menanyakan hal tersebut. karena pertanyaan dan pernyataan lebih menggunakan basis nalar dan logika.

Biasanya pertanyaan seperti tadi disampaikan karena adanya “keheranan” subjek atas proses terapi yang hanya ngobrol, tetapi kemudian mampu mengubah hal-hal yang selama ini dianggap  mustahil, misalnya perubahan mood dari putus asa mnenjadi penuh harapan dan bahagia, perubahan perilaku dari apatis menjadi sangat bergairah. Padahal yang dialkukan hanya ngobrol. Saya menghindari intervensi fisik, seperti menyentuh atau memijat subjek, jika dengan berbicara hasilnya cukup maksimal.

Untuk menjawab pertanyaan “Apakah terapi ini menggunakan unsur mitis?” saya memastikan semua proses terapi yang saya lakukan lebih kepada nalar dan logika, serta pemahaman atas faal tubuh dan emosi derta bagaimana semua itu bekerja. Namun sebagai terapis, saya juga bisa merasakan adanya proses yang “ajaib”, dimana interaksi dengan subjek menghasilkan kesembuhan atau kondisi yang diinginkan dengan sangat cepat dan baik. Sering hanya dengan sesi tunggal subjek menemukan jawaban dan solusi atas masalahnya. di sisi lain ada juga interaksinya tak berhasil maksimal.

Semua bisa dijelaskan dengannalar, tetapi tidak semua proses bisa diterangi dengan logika, ada juga unsur non logika yang biasa saya dekati dengan instuisi. Hal ini bisa kita lihat dari proses “pertemuan” antara terapis dan subjek. Banyak kasus bertemunya saya dengan subjek, sudah dapat saya perkirakan sebelumnya, saya mengartikan bahwa ini adalah proses instuisi, yang mungkin juga terjadi karena proses belajar dan latihan, sehingga menimbulkan reflek yang tak semuanya bisa dijelaskan dengan nalar semata. Bagitu juga proses terapi, soal metode dan teknik apa yang akan digunakan dan bagaimana hasilnya, semuana lebih bersifat instuitif.

Saya menyimpulkan ketika apa yang disebut mind and body connection, yang terjadi sebanarnya bukan hanya di salah satu pihak, misalnya saat subjek dituntun untuk menggunakan fenomena keterhubungan antara jiwa (pikiran) dengan tubuh dan masalahnya, tetapi juga keterhubungan antara terapis dan subjek, yang bisa dipelajari dan dilatih, tetapi keterampilan ini lebih merupakan hasil praktek yang terus menerus, dan memerlukan sikap khusus untuk membuatnya bekerja, seperti sikap tak terikat dengan apa yang kita miliki dan kiita inginkan, sampai kita benar-benar mampu menggunakan fenomena ini.

Di sisi subjek, tentu dengan pemahaman ini, diperlukan “kesiapan’ subjek untuk mendapatkan hasil maksimal dari sebuah terapi. Edukasi tentang bagaimana mind  ang body connection, bukan hanya pada sisi subjek atau terapis, tetapi menyangkut hubungan anatara keduanya. Edukasi inilah yang saya tuangkan dalam tulisan ini. Bukan untuk membebani atau mewajibkan subjek menguasai pengolahan mind and body connection, tetapi sekadar memahami bahwa hubungan yang baik antara terapis dan subjek untuk bekerjasama menyelesaikan masalah yang dihadapi perlu ada, bahkan saat pra proses terapi.

Soal pemahaman dan kecakapan untuk menggunakan berbagai teknik yang didasari dengan fenomena keterhubungan antara jiwa dan tubuh, atau lebih tepatnya kesatuan seluruh kemanusiaan (tubuh, pikiran rasa dan jiwa), mutlak merupakan kewajiban terapis untuk menguasai ilmu dan prakteknya. Itu pula sebabvnya mengapa perlu ada terapis yang cukup cakap untuk membantu atau mendampingi subjek dalam mengatasi permasalahan yang dihadapinya. Hasil dari proses itu, jika pun nampak ada keajaiban, sesungguhnya masih dapat dijelaskan dengan logika sebagaimana yang saya uraikan dalam tulisan ini.