MarahTopik ini pernah saya bahas pada web saya yang lain dengan judul dan konten sedikit berbeda. Rasa marah yang saya maksud adalah sebuah emosi yang muncul karena kita kecewa atau merasa tidak adil akubat perilaku seseorang kepada kita atau kepada sesuatu yang kita sangat peduli, misalnya perlukuan yang tidak adil yang diterima anak kita atau orang tua kita. Masalahnya seringkali rasa marah itu sudah kita lupakan peristiwanya, tetapi akibat peristiwanya masih menjadi masalah dalam diri kita.

Untuk mudahnya saya ambil contoh dari sebuah sesi terapi yang disampaikan seorang ibu muda dengan anak usia 7 tahun. Ia mengeluhkan bahwa dirinya merasa bahwa hampir semua yang ia lakukan tidak ada yang berhasil. salah satu kegagalannya adalah menyangkut keberlangsungan rumah tangganya dengan orang yang ia jadikan pendamping hidup 11 tahun lalu. Sebuah pilihan ideal pada saat memutuskan untuk menikah tetapi nyatanya bahtera rumah tangganya kandas diterpa badai perceraian yang didahului dengan pertengkaran hebat berbulan-bulan.

“Saya merasa gagal dalam banyak hal, juga dalam hal rumah tangga, lebih dari 10 tahun saya berkorban dan bertahan dengan sia-sia,”

Seperti biasa sebagai terapis saya menarik klien ke arah apa yang diinginkan, bukan apa yang tidak dia inginkan, karena kita tahu orang seringkali bercerita tentang apa yang tidak diinginkan, atau bahkan bercerita bukan apa yang ia benci. “Dengan cerita seperti ini, apa sebenarnya yang ibu inginkan dalam hidup ibu, hari ini dan kedepan,” tanya saya yang membubarkan cerita berderai air matanya, dan menatap seakan tak percaya dengan pertenyaan saya.

Sesi lanjutan dari cerita ini adalah mengungkap emosi apa yang melekat sehingga ibu muda ini merasa tidak bahagian, bahkan merasa tidak bermakna hidupnya. Padahal dari kendaraan yang ia bawa, dan penampilan yang tak kalah menarik dengan artis nasional, seharusnya orang membayangkan bahwa kehidupan ibu yang di hadapan saya ini jauh dari kesengsaraan, tap memang demikian adanya.

Menemukan akar permasalahan yang menyertai emosi yang tak stabil dan meledak-ledak, ketika menceritakan penderitaanya dan orang yang menyebkan itu, ia mendapatkan sebuah memori, ketika kedua orang tuanya bertengkar hebat dan ia saat itu sebagai gadis kecil usia 7 tahun, menggigil ketakutan bersembunyi di balik almari, di kamar tempat kedua orangtuanya terlibat sangat emosional diwarnai kekerasan fisik sang ayah pada ibunya.

Rasa marah, ya itu yang terekam pada saat itu, marah pada sanga ayah, marah kepada ibunya yang meladeni pertengkeran dengan ayahnya, serta marah pada diri sendiri, karena merasa tak bisa melakukan apapun, pada saat peristiwa yang menurutnya membuat sangat tidak nyaman saat itu. Lebih dari 20 tahun peristiwa itu berlalu, tetapi rasa marah itu masih ada, bahkan menjadi kembali sangat nyata, saat dirinya juga mengalami peristiwa mirip dengan apa yang dialami di masa kecilnya. Bertengkar hebar dengan sang suami, yang terulang dan terulang lagi.

Bagainana rasa itu menghambat kebahagiaan dan kenyamanannya, ia rasakan dengan sangat jelas, upaya meluppakan peristiwa itu pun bukan perkara yang mudah, rasa takut untuk memulai hidup dengan berusaha mandiri juga tak muda. “saya dulu bekerja di erusahaan Bank nasional, kini tak mudah mengejar karir setelah saya tinggalkan selama sepuluh tahun,”ujarnya.

Bagaiman kita mampu menetralisir masa marah, yang berakar pada peristiwa di masa lalu, dan menggantikannya dengan pengertian dan perubahan emosi yang nyaman, itu yang keudian saya pandu lakukan kepadanya. terapi memaafkan dan seperangkat teknik pendukungnya menjadi sarana ampuh bagi wanita muda yang ingin mandiri ini, sehingga di akhir sesi terapi saya melihat wajahnya lebih bercahaya, karena menemukan jawaban atas permasalahan yang dihadapi dan menerapkan cara bagaimana mengatasinya secara cepat.