Oleh : Kaka Suminta, C.Ht.

Pengetahuan seorang hipnoterapis atau terapis yang menggunakan metode hipnosis dalam membantu pasien atau kliennya, seyogyanya dibarengi dengan pengetahuan dasar klinis psikologi dan psikiatri. Kebutuhan kelengkapan pengetahuan ini menjadi sangat penting saat seorang hipnoterapi melakukan praktik hipnoterapi klinis,  baik yang dilakukan di tempat praktik pribadinya maupun yang dilakukan sebagai salah satu bagian dari terapi yang dilakukan salam sebuah klini yang juga melayani terapi lain selain hipnoterapi. Pengetahuan klinis penunjang tadi tentunya merupakan pengetahuan dasar yang harus dipahami, untuk saat mengetahui manfaat dari dan batasan yang bisa dilakukan oleh seorang hipnoterapis dalam membantu kliennya.

Secara umum masih terdapat perdebatan soal apakah seorang hipnoterapis juga harus memiliki sertifikasi keahlian medis atau psikologis tertentu dalam melakukan praktik sebagai hipnoterapis. Namun edaran umum dan yang ditentukan dalam regulasi pemerintah Indonesia melalui ketentuan yang dibuat oleh Departemen Kesehatan, menyebutkan bahwa seorang atau sekelompok hipnoterapis dimungkinkan untuk membuka praktik pengobatan (lebih tepatnya terapi,  karena tidak menggunakan obat), setelah memenuhi berbagai syarat dan selanjutnya bersedia disupervisi oleh jajaran departemen atau dinas kesehatan setempat, misalnya melalui Puskesmas di wilayahnya.

Salah satu syaratnya misalnya praktik hipnoterapi klinis mengacu kepada nomenklatur griya sehat, baik yang tercantum dalam plang nama maupun untuk memenuhi syarat lain yang telah ditentukan, termasuk soal pemenuhan sarana dan prasarana kelengka[n sebuah griya sehat. Da;am hal ini hipnoterapi berada dalam kelompok pengobatan tradisional. Dengan. Demikian seorang hipnoterapis terbatas dan tidak boleh melewati batas dalam hal praktik pengobatannya, misalnya dalam praktiknya tidak diperkenankan menggunakan alat-alat kesehatan medis dalam prakteknya, serta memenuhi syarat dan mengajukan metode pengobatan tertentu sesuai dengan yang telah ditentukan pemerintah.

Dari pemahaman tersebut di atas, kita bisa mengajukan pertanyaan misalnya sejauh mana larangan alat bantu kesehatan medis ini bisa digunakan atau dilarang penggunaannya, misalnya apakah dalam sebuah riya sehat dengan pelayanan hipnoterapi boleh menggunakan timbangan badan, alat ukur tekanan darah, atau alat untuk mengukur gula darah, asam urat atau kolesterol pasien, untuk memastikan tentang kondisi kesehatan fisik pasien. Seyogyanya batas tentang diperbolehkannya alat ukur medis sederhana tersebut masih bisa ditolelir untuk kepentingan kondisi pasien yang akan mendapatkan pelayanan hipnoterapi. Atau bagaimana ketentuan pengunaan EEG (elektronik enchepalo Graphy) untuk mengukur gelombang otak pasien, tentang saja alat-alat ukur tadi perlu standardisasi, sertifikasi dan sertifikasi keahlian untuk menggunakannya.

Demikian juga saat membantu pasien, pertanyaan lebih lanjut bisa kita ajukan sejauh mana seorang hipnoterapis bisa dan boleh menggunakan pengetahuan klinis dan psikiatri untuk membantu pengobatannya tadi. Secara logis kita meyakini bahwa seorang hipnoterapis yang memahami pengetahuan klinis dan psikiatri dasar akan lebih mampu mendayagunakan metode pengobatan hipnoterapis ya dibandingkan dengan jika tanpa pengetahuan tersebut, sekaligus memahami batasan-batasan yang bisa dilakukan dalam melakukan. Praktik hipnoterapinya terkait dengan ketentuan medis dan psikiatri, misalnya larangan menggunakan alat medis dan pemberian obat psikiatri dalam praktik hipnoterapinya.

Pernytanyaan selanjutnya adalah soal seberapa jauh pengetahuan dasar psikiatri dan medis itu diperlukan dalam upaya menunjang pengobatan oleh seorang hipnoterapis. Tentu untuk menjawab hal ini sebenarnya pemerintah yang membuat regulasi sekaligus perlindungan kepada pihak-pihak terkait, seperti pasien dan terapisnya sendiri perlu membuat ketentuan tentang hal ini. Bisa juga bersama dengan asosiasi profesi hipnoterapis dibuat ketentuan tentang hal tersebut. Semua upaya untuk membuat standardisasi dan batasan tersebut tentu dilakukan untuk membantu agar bidang hipnoterapi memberikan manfaat maksimal untuk kesehatan publik, sekaligus sebagai upaya pengembangan hipnoterapis sebagai salah satu metode pengobatan alternatif, atau bila perlu menjadi pengobatan komplementer.