Inspirasi :

Gudang garamKetika saya menjadi pemimpin sebuah lembaga advokasi yang pasti merupakan lembaga non profit, saya merasa bersalah saat melihat aktivis yang membaktikan dirinya di lembaga ini hidup dalam kesederhanaan. Sebagian dari mereka memang masih hidup sendiri, belum berkeluarga, tetapi dari sisi usia mereka mulai menapaki usia berumah tangga sekitar 30 tahunan. Berbagai pemikiran dan ide coba saya rumuskan, beberapa diantaranya saya implementasikan. Namun saya tetap tak puas dengan hasilnya.

Terus bergelut dengan kebersamaan dan saling berbagi, malah saya melihat saat itu beberapa aktivis mengalami penurunan secara ekonomi, bagaimana tidak sebagian dari mereka sudah selesai strata satu dalam pendidikan, diantaranya dari universitas ternama di Jabar. artinya orang tua mereka mampu untuk membiayai kuliah mereka, menandakan kondisi ekonomi yang tidak terlalu bawah. Namun saat menjadi aktivis mereka malah kadang harus berpuasa saat tak ada cadangan beras di sekretariat.

Keprihatinan saya tentang kondisi ekonomi kawan-kawan ini terus terbawa, sampai saat ini, ketika saya lebih fokus pada bidang advokasi lain. walau masih saling berkomunikasi, tapi saya merasa belum mampu mengajak mereka untuk mencapai taraf ekonomi yang pantas sesuai dengan kapasitas dan komitmen mereka saat mengerjakan advokasi yang menuntut pengorbanan total. Sampai suatu malam saya mendapat telepon dari salah satu kawan yang akan berkunjung ke rumah, kebetulan saya berada di kampung halaman, sementara kawan ini mengatakan sedang berkeliling ke beberapa daerah dalam rangka bisnis.

Basa-basi saling sapa mewarnai pertemuan kami yang tetrnyata sudah lebih dari 10 tahun silam terjadi, dengan salah satu kawan ini, dan celetukanya yang khas di antara derai tawa dan canda di tengah malam menjelang pergantian hari itu benar-benar menghentakkan pikiran saya “Ternyata garam itu manis bung,” katanya enteng.

Sambil bercerita tentang dirinya dan kawan-kawan lain yang dulu berbagi tembakau mole, yang harus dikelinting sendiri untuk menghemat pengeluaran untuk rokok, ia menjelaskan bahwa selepas kami semua saling berpisah dengan kesibukan lain, setelah kerja advokasi kami yang terkahir di Jati Gede, berbagai kegiatan dan usaha ia lalukan, yang akhirnya ia menggeluti usaha bisnis garam, sebuah komoditi yang sejak berdirinya negara Indonesia merdeka menjadi mata pencaharian masyarakat di sekitar tempat tinggalnya di Indramayu utara.

Lebih jauh ia menceritakan bahwa pada akhirnya ia menemukan pola usaha yang sesuai dengan potensi dan kesadarannya, yakni sambil mengadvokasi petai garam juga membangun usaha yang saling menguntungkan mengangkat bersama-sama nasib petani garam di wilayahnya, alhasil ketika usahanya mencapai angka ribuan ton garam, maka angka keuntungan juga menjadi jauh dari cukup untuk menghidupi keluarganya yang ia bangun selepas dari lembaga yang dulu digeluti.

Demikian jua dengan kawan-kawan lain yang kini menggeluti berbagai bidang kehidupan, sebagian besar masih melakukan kerja advokasi tetapi lebih dikaitkan dengan kegiatan ekonomi dan tak jauh dari mengangkat taraf hidup petani. Sebuah kelegaaan dan jawaban yang saya dapat dari cerita kawan ini, bahwa ternyata mereka mampu untuk mengarungi kehidupan dengan baik, dan tetap memiliki kesadaran sosial yang bermanfaat bagi sesama.

Kelegaan ini juga menjawab kekhawatiran saya akan masa depan aktivis, khususnya yang ada di lembaga yang saya pimpin saat itu. Pelajaran lain yang saya dapat adalah bahwa ternyata kita tak bisa merencanakan masa depan orang lain seperti yang kita pikirkan, kehidupan memilih jalannya sendiri. Ini juga memberikan pelajaran buat saya bahwa saat membantu orang lain, bahkan juga diri sendiri, kita tak bisa menentukan hasilnya seperti yang kita pikirkan, yang kita perlukan hanya membiarkan semuanya tumbuh sesuai dengan jalan kehidupannya. Itulah pelajaran yang saya petik dari celoteh kawan bahwa “Garam itu ternyata manis,” sementara dalam pemahaman saya yang lama selalu berpikir bahwa garam itu asin.